sosiologi keluarga

ol c

KEKERASAN TERHADAP ANAK

I. PENDAHULUAN

Hidup berkeluarga adalah dambaan bagi setiap orang. Dengan berkeluarga setiap orang pasti merasa bahwa hidupnya akan menjadi lebih sempurna, apalagi mempunyai keluarga yang bahagia dan harmonis. Namun terkadang hal iti hanya impian belaka. Seperti saat ini masih banyak konflik internal yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Sampai saat ini , kekerasan dalam rumah tangga masih menjadi momok yang menakutkan. Kekerasan dalam rumah tangga dapat terjadi karena adanya masalah-masalah dalam kelurga tersebut misalnya dari segi faktor ekonomi.Kekerasan terhadap anak ternyata masih terus terjadi. Setiap hari ratusan ribu bahkan jutaan anak Indonesia mencari nafkah di terik matahari, di kedinginan malam, atau di tempat-tempat yang berbahaya. Setiap hari di Indonesia ada anak yang disiksa orangtuanya atau orang yang memeliharanya. Setiap malam, di antara gelandangan ada saja gadis-gadis kecil yang diperkosa preman jalanan. Setiap menit ada saja anak Indonesia yang ditelantarkan orangtuanya karena kesibukan karier, kemiskinan, atau sekedar egoisme

Menurut WHO, kekerasan adalah penggunaan secara sengaja kekuatan fisik atau kekuatan, ancaman atau kekerasan aktual terhadap diri sendiri, orang lain, atau terhadap kelompok atau komunitas, yang berakibat luka atau kemungkinan besar bisa melukai, mematikan, membahayakan psikis, pertumbuhan yang tidak normal atau kerugian. (Kusworo, Danu. 2006 : 1).

Penggunaan kata kekuasaan di dalam definisi kekerasan bertujuan untuk memperluas pemahaman tentang kekerasan dan memperluas pemahaman konvensional tentang kekerasan dengan memasukkan juga tindakan-tindakan kekerasan yang merupakan hasil dari relasi kekuasaan, termasuk di dalam ancaman dan intimidasi.
Penggunaan kata perbuatan secara tidak sengaja dalam definisi kekerasan dengan maksud adalah sengaja berbuat kekerasan tidak selalu sejalan dengan perbuatan yang tujuannya adalah sengaja untuk menimbulkan kesakitan. Dengan kata lain, perbuatan yang disengaja tidak selalu sejalan dengan hasil yang memang direncanakan dari awal. Sebagai contoh orang tua yang mengguncang bayinya yang menangis terus mungkin tidak bermaksud menyakiti anaknya, tetapi akibatnya dapat merusak otak bayi

II. PEMBAHASAN

A. Perlindungan Terhadap Anak

Berdasarkan Undang Perlindungan Anak pada Bab I Ketentuan Umum, pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dengan jumlah yang begitu besar, peran anak menjadi penting. Di satu pihak, anak merupakan tumpuan masa depan bangsa, di lain pihak karena masih berusia muda, anak merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap berbagai masalah, seperti kesehatan, pendidikan, hukum, ketenagakerjaan, dan lain-lain.

Indonesia tidak sendirian dalam upaya melindungi anak-anak. Dalam Konvensi Hak Anak berlaku prinsip universal mengenai non-diskriminasi. Telah disepakati bahwa anak di mana pun berada harus dilindungi dari berbagai bentuk kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi terlepas dari perbedaan latar belakang nasionalitas, budaya, politik kedua orangtuanya, agama atau kepercayaan, sosial ekonomi, atau jenis kelaminnya. Kebijakan negara yang baik adalah memastikan bahwa setiap anak adalah potensi yang konstruktif dan mencegah terjadinya gangguan terhadap mereka sehingga berubah menjadi sumber masalah dan biaya tinggi

UUD 1945 dalam amandemen kedua pasal 28b (2) menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh kembang, dan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Pada amandemen pasal 28c (2) juga dinyatakan bahwa “Setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya…”. Mandat konstitusi ini diterjemahkan ke dalam UU No. 23 tahun 2002 yang keseluruhannya mengakui hak-hak anak sebagaimana yang disepakati oleh masyarakat internasional melalui ratifikasi Konvensi PBB mengenai Hak-hak Anak, mengatur mekanisme perlindungan anak, serta mengkriminilisasi perbuatan-perbuatan yang merugikan anak.
Di Indonesia, jenis-jenis kondisi dan situasi anak yang sangat menonjol dan segera ditangani menurut Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) adalah :

1. Pekerja anak

2. Anak yang dieksploitasi untuk tujuan seksual komersial

3. Anak yang diperdagangkan (tracfiking anak)

I. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan Terhadap Anak

Beberapa faktor sosial yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak adalah :

1. Norma Sosial

Tidak ada kontrol sosial pada tindakan kekerasan terhadap anak-anak. Bapak yang mencambuk anaknya tidak dipersoalkan tetangganya, selama anak itu tidak meninggal atau tidak dilaporkan ke polisi. Sebagai bapak, ia melihat anaknya sebagai hak milik dia yang dapat diperlakukan sekehendak hatinya.Tidak ada aturan hukum yang melindungi anak dari perlakuan buruk orang tua atau wali atau orang dewasa lainnya.

2. Nilai-nilai Sosial

Hubungan anak dengan orang dewasa berlaku seperti hirarkhi sosial di masyarakat. Atasan tidak boleh dibantah. Aparat pemerintah harus selalu dipatuhi. Guru harus di gugu dan ditiru. Orang tua wajib ditaati. Dalam hirarkhi sosial seperti itu anak-anak berada dalam anak tangga terbawah. Guru dapat menyuruhnya untuk berlari telanjang atau push up sebanyak-banyaknya tanpa mendapat sanksi hukum. Orang tua dapat memukul anaknya pada waktu yang lama tanpa merasa bersalah. Selalu muncul pemahaman bahwa anak dianggap lebih rendah, tidak pernah dianggap mitra sehingga dalam kondisi apapun anak harus menuruti apapun kehendak orang tua. Selain itu di Indonesia masih menganut kebudayaan Patrialki, jadi sang ayah sangat superioritas dibanding dengan anggota keluarga yang lain.

3. Ketimpangan Sosial

Kita akan menemukan bahwa para pelaku dan juga koban kekerasan anak kebanyakan berasal dari kelompok sosial ekonomi yang rendah. Kemiskinan, yang tentu saja masalah sosial lainnya yang diakibatkan karena struktur ekonomi dan politik yang menindas, telah melahirkan subkultur kekerasan. Karena tekanan ekonomi, orang tua mengalami stress yang berkepanjangan. Ia menjadi sangat sensitif. Ia mudah marah. Kelelahan fisik tidak memberinya kesempatan untuk bercanda dengan anak-anak. Terjadilah kekerasan emosional. Pada saat tertentu bapak bisa meradang dan membentak anak di hadapan banyak orang. Terjadi kekerasan verbal. Kejengkelan yang bergabung dengan kekecewaan dapat melahirkan kekerasan fisik. Ia bisa memukuli anaknya atau memaksanya melakukan pekerjaan yang berat. Orang tua bisa menjual anaknya ke agen prostitusi karena tekanan ekonomi.

B. Solusi untuk Mencegah Terjadinya Kekerasan Terhadap Anak

1. Pendidikan dan Pengetahuan Orang Tua Yang Cukup

Dari beberapa faktor yang telah kita bahas diatas, maka perlu kita ketahui bahwa tindak kekerasan terhadap anak, sangat berpengaruh terhahap perkembangannya baik psikis maupun fisik mereka. Oleh karena itu, perlu kita hentikan tindak kekerasan tersebut. Dengan pendidikan yang lebih tinggi dan pengetahuan yang cukup diharapkan orang tua mampu mendidik anaknya kearah perkembangan yang memuaskan tanpa adanya tindak kekerasan dan sistem mendidiknya pun tidak memakai sifat kekerasan.
2. Keluarga Yang Hangat Dan Demokratis

Sebagai contoh, kasus bocah cilik yang bernama Anggi (6) seperti dikutip dari Kompas edisi 24 Januari 2006. Ia disiksa oleh ibu kandungnya karena wajahnya senantiasa mengingatkan ibunya pada suaminya yang telah meninggalkan rumah membawa seluruh harta benda. Sejak kasus ini terkuak, Anggi berada di bawah asuhan Winarni dan Hermain. Saat pertama dibawa ke rumah pasangan itu, kondisi Anggi sangat mengenaskan. Tubuhnya penuh luka. Ia sempat menutup diri. Setiap malam ia ditemani Winarni karena sulit tidur. Dari contoh kasus terszebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa keluarga yang berantaakan dapat memicu terjadinya kekerasan terhadap anak, misalnya dalam kasus ini yaitu seorang ibu yang menganiyaya anaknya karena wajah anaknya mengingatkan dia pada suaminya.

3. Membangun Komunikasi Yang Efektif

Kunci persoalan kekerasan terhadap anak disebabkan karena tidak adanya komunikasi yang efektif dalam sebuah keluarga. Sehingga yang muncul adalah stereotyping (stigma) dan predijuce (prasangka). Dua hal itu kemudian mengalami proses akumulasi yang kadang dibumbui intervensi pihak ketiga. Sebagai contoh kasus dua putri kandung pemilik sebuah pabrik rokok di Malang Jawa Timur. Amy Victoria Chan (10) dan Ann Jessica Chan (9) diduga jadi korban kekerasan dari ibu kandung mereka saat bermukim di Kanada. Ayahnya terlambat tahu karena sibuk mengurus bisnis di Indonesia dan hanya sesekali mengunjungi mereka. Mereka dituntut ibunya agar meraih prestasi di segala bidang sehingga waktu mereka dipenuhi kegiatan belajar dan beragam kursus seperti balet, kumon, piano dan ice skating. Jika tidak bersedia, mereka disiksa dengan segala cara. Mereka juga pernah dibiarkan berada di luar rumah saat musim dingin.(Kompas edisi 24 Januari 2006). Kejadian ini mungkin tidak terjadi jika ayahnya selalu mendampingi anak-anaknya.

Untuk menghindari kekerasan terhadap anak adalah bagaimana anggota keluarga saling berinteraksi dengan komunikasi yang efektif. Sering kita dapatkan orang tua dalam berkomunikasi terhadap anaknya disertai keinginan pribadi yang sangat dominan, dan menganggap anak sebagai hasil produksi orang tua, maka harus selalu sama dengan orang tuanya dan dapat diperlakukan apa saja.

Bermacam-macam sikap orang tua yang salah atau kurang tepat serta akibat-akibat yang mungkin ditimbulkannya antara lain :

a. Orang tua yang terlalu menuntut

Anak yang dididik dengan tuntutan yang tinggi mungkin akan mengambil nilai-nilai yang terlalu tinggi sehingga tidak realistic. Bila anak tidak mau akan terjadi pemaksaan orang tua yang berakibat terjadinya kekerasan terhadap anak seperti contoh kasus di atas.

b. Orang tua yang terlalu keras.

Anak yang diperlakukan demikian cenderung tumbuh dan berkembang menjadi anak yang penurut namun penakut. Bila anak berontak terhadap dominasi orang tuanya ia akan menjadi penentang. Konflik ini bisa berakibat terjadi kekerasan terhadap anak. (Erwin. 1990 : 31 – 32).

Sosialisasi Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi pada perempuan dan anak-anak merupakan masalah yang sulit di atasi. Umumnya masyarakat menganggap bahwa anggota keluarga itu milik laki-laki dan masalah kekerasan di dalam rumah tangga adalah masalah pribadi yang tidak dapat dicampuri oleh orang lain.

Sebetulnya Indonesia telah meratifikasi konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan Undang-Undang No. 7/1984, Undang-undang no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak serta Undang-Undang No. 29 tahun 1999. (Suprapti, 2006 : 4).

.
Penelitian membuktikan bahwa kekerasan terhadap anak justru dilakukan oleh orang dekat artinya orang yang dikenal oleh korban. Pelaku tindak kekerasan fisik dan seksual menurut pemantauan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Barat tahun 2003 adalah orang-orang terdekat yaitu tetangga, orang tua, paman, kakek, teman, pacar serta saudara. Hal ini dapat juga dilihat dari lokasi tindak kekerasan paling banyak terjadi di rumah korban atau rumah pelaku.Setidaknya ini menunjukkan bahwa pelaku adalah orang yang dekat dengan korban. (Pikiran Rakyat, edisi 20 Januari 2006).

Saran

1. Segala bentuk perundang-undangan sudah ada, yang perlu dibenahi adalah ketegasan hukum dari aparat agar kekerasan terhadap anak bisa dihilangkan.
2. Ada kepedulian masyarakat sekitar untuk segera melapor ke pihak berwajib bila terdapat hal-hal yang mencurigakan di lingkungannya berkaitan dengan kekerasan terhadap anak.

http://ardansirodjuddin.blogspot.com/2007/10/kekerasan-terhadap-anak.html

http://nhsynyster.blog.uns.ac.id/2010/06/04/sosiologi-perkotaan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: